Thursday, August 11, 2016

Selamat Berjuang Adzkiya

Garut kota leluhur, qodarulloh seolah tak mau lepas dari tanah kelahiran enin( baca: nenek) Adzkiya Yumna memulai jihad nya di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Persatuan Islam 73 Garogol Kota Garut. Ingatan kembali menerawang ke masa Adzkiya masih balita, dua tahun di taman kanak-kanak dan enam tahun di sekolah dasar yang baru ia selesaikan. Prestasi akademik Adzkiya termasuk biasa-biasa saja nilai Nemnya hanya rata-rata tujuh koma, hal ini tidak membuat saya dan ibunya kecewa karena itulah hasil usaha maksimalnya dan yang terpenting bukan nilai angka-angka yang menjadi tujuan kami, yaa.. walaupun akan lebih senang jika kami melihat nilainya lebih besar hehehehe..

Disamping itu yang kami bangga dari Adzkiya adalah beberapa lembaran kecil sederhana penghargaan dari sekolah atasnya sebagai prestasinya sebagai siswa terajin dan siswa penuh inisiatif Walhamdulillah….

Mondok di Pesantren adalah pilihannya dan Adzkiya sudah setuju untuk mondok di sana dengan tanpa paksaan dari kami. Setelah kami pilihkan beberapa pondok di sekitar Subang, Cikole dan Bandung bahkan saya sempat tawarkan pondok yang berada si kota Solo kota leluhur mbahnya, akhirnya qodarulloh Garut adalah pilihannya.


Pekan banjir air mata

Sebagai orang tua yang baru pertama kalinya memondokkan anaknya, kekhawatiran, kegundahan, kegalauan atau apatah namanya menyelimuti kami. Kami melepas Adzkiya di pondok dengan menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan Adzkiya. Lambaian tangan perpisahan menanamkan kesan yang begitu dalam di dalam hati, kami merasakan jika Adzkiya mempunyai perasaan yang sama. Bahkan ibunya tak tega memeluknya karena khawatir air matanya tumpah tak terbendung. Kami pun pulang kembali ke Bandung dengan berat hati dan pasrah.

Akhirnya air mata sudah tidak tertahan lagi. Malam-malam kami dipenuhi tangisan. Sholat-sholat kami, dalam tidur-tidur kami, dalam diam kami selalu berhias derai air mata rindu dan kekhawatiran. Kami senantiasa mengobati kami sendiri dengan doa-doa kami menitipkan putri kami kepada Sang Pencipta dan Pengurus Alam Semesta Alloh Swt.

Begitu keadaannya selama sepekan hingga akhirnya kami bersiap-siap menengok Adzkiya keesokan harinya. Dengan berboncengan sepeda motor kami meluncur ke kota Garut di hari jumat. Setiba di pondok teman-teman adzkiya memanggil ”adzkiyaaa…adzkiyaaa”. Rupanya mereka mengenali kami sebagai orang tua Adzkiya. Dengan berlari Adzkiya menghampiri ibunya dengan derai air-mata. “Ibuuu…kiya gak betaah pindah aja..” begitu pintanya. Kulihat ibunya pun tak kuasa menahan cucuran air-mata. Aku berpaling dan menjauh berusaha menahan tekanan rasa sedih yang dalam. Timbul dalam benakku untuk mencari sekolah alternatif di Bandung..ah lemah sekali aku. Ibunya berusaha menghiburnya. Adzkiya mengeluh pusing dan sakit perut, dia minta berobat di Bandung saja. Tapi atas saran pihak pondok akhirnya kiya ( begitu kami memanggilnya) berobat di klinik terdekat gak jauh dari pondok. Sebelumnya beberapa teman-temannya yang menyaksikan tangisan kiya, mereka menghampiri dengan memberikan semacam advis atau testimoni menghibur Adzkiya, rupanya beberapa diantaranya adalah kakak kelasnya..cukup melegakan kami atas sikap dewasa dan care beberapa teman-teman dan kakak kelasnya itu. Kulihat istriku, Adzkiya dan beberapa teman-temannya membuat halaqoh kecil di depan kelasnya. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan di pondok suatu peristiwa yang menakjubkan bagi saya. Ternyata istriku lebih kuat dan teguh di banding aku semoga Alloh swt menjaganya.

Akhirnya kamipun membawa adzkiya ke klinik terdekat dan konsul dokter atas keluhannya. Sepulang dari klinik kami tidak langsung kembali ke pondok tapi kami mampir makan baso tidak jauh dari klinik. Ti “halaqoh baso” itulah kami banyak berbincang diantara kami, suasana cair, menyenangkan dan dari mulut Adzkiya sendiri akhirnya kami tau ternyata Adzkiya telah menyelesaikan tiga hari puasa qodho atas inisiatif sendiri..kami memuji Alloh walhamdulillah suatu hal yang kami tidak jumpai ketika kami di rumah. Kami pun memujinya dan terus memberikan semangat. Dan kami ingatkan tentang beberapa hadist keutamaan mencari ilmu kepadanya.

Hari mulai senja dan Adzkiya memberitahukan bahwa ba'da asar nanti ada sekolah agama di pondok. Kamipun bergegas menuju pondok. Tidak lama setiba di pondok kamipun meninggalkan pondok kulihat mata Adzkiya masih berkaca. Sekali lagi lisan dan hati kami berseloroh Yaa Robbanaa kutitipkan Adzkiya padaMu karena Engkaulah sebaik-baik teman dan tempat bersandar segala urusan.


Selamat Berjuang Adzkiya Yumna kami mencintaimu karena Alloh ta ‘alaa semoga Alloh memberikan padamu taufiq kefahaman akan ilmu yang akan menerangi jalan kehidupanmu di dunia ini hingga akhirat nanti. Sebagaimana dulu tatkala pagi buta kau masih belia kau kalahkan setan ( baca: http://jiwayangtenang.blogspot.co.id/2010/11/anakku-lepaskan-3-ikatan-syetan-itu.html) kami yakin dengan pertolongan Alloh kau akan mampu kalahkan syetan dan hawa yang berusaha menghalangimu dari kebaikan.

Hasbiyalloohu wa ni’mal wakil.

Friday, April 8, 2016

Tilawah Menguatkan Hafalan

Ahad, 13 Desember 2015 masjid al-kahfi sebagaimana luar biasa kami bertemu bersama beberapa ikhwan untuk menyetorkan hafalan kepada mursyid kami Ust. Tatan hanafi Al-hafidz. Diluar masjid hujan cukup deras sekaligus menambah syahdu suasana tilawah dan muroja’ah kami, di temani makanan kecil yang dibawa ust. Ade Zaenal dan minuman yang “ngangeni”dari Ust. Misyari Dani begitu kami juluki karena tilawahnya yang “enakeun” wal hamdulillah.
Hari ini tidak banyak ikhwan yang hadir dikarenakan beberapa ijin ada keperluan masing-masing sehingga waktu setor an tidak begitu lama dan selesai agak jauh dari waktu maghrib tiba. Kesempatan waktu di manfaatkan oleh Ust .Tatan untuk menyampaikan tausiah qur’aniyah untuk menyemangati kami yang memang kadang mengalami  “futur”, “ Down”, “ kurang semangat” atau apalah istilahnya yang berkaitan dengan proses menghafal Al-Qur’an.

Sering dalam benak para penghafal al-qur’an terbesit pertanyaan klasik, bagaimana caranya ditengah proses menghafal al-qur’an sementara tuntutan tilawah juga harus terpenuhi. Seolah-olah waktu untuk tilawah tersita oleh waktu menghafal yang tidak hafal-hafal alias sulit melekat di kepala. Inilah yang inti tausiah ust. Tatan Hanafi sore ini bahwa semestinya tilawah tidak menggangu atau terganggu oleh proses kita dalam menghafal Al-Qur’an dan bahkan tilawah sangat mendukung mudah dan kuatnya hafalan kita. Hal yang menjadi penghalang atau sulitnya kita dalam menghafal Al-Quran adalah kondisi hati yang sedang kotor atau tidak bersih alias berkarat. Hal ini pernah di alami ustad Tatan sendiri ketika beliau masih di mahad tahfidz di Jakarta. Beliau merasakan “boring” karena rutinitas menghafal akhirnya beliau berniat “uzlah” mencari suasana baru dalam proses menghafal. Dipilihlah masjid At-Tiin sebagai tempat “uzlah” beliau, dengan menggunakan angkot sesampainya di mesjid At-Tiin beliau memilih tempat di lantai dua alias “mojok”. Namun selama “uzah” itu beliau kesulitan menghafal berkali-kali di hafal tidak nyantol-nyantol akhirnya beliau memutuskan un tuk tilawah saja sebanyak-banyaknnya.

Maka tilawah seharusnya tetap di agendakan dalam hari- hari para penghafal al-Quran. Meminjam istilah salah satu ikhwan kami akh Muhyidin tilawah harus menjadi bahan bakar dalam proses menghafal Al-quran. jika bahan bakarnya habis maka hafalannya tidak akan mateng-mateng.

Imam Syafi’i mengadukan pada gurunya Waki’. Beliau berkata, “Wahai guruku, aku tidak dapat mengulangi hafalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Gurunya, Waki’ lantas berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau merenungkan kembali!”
Imam Syafi’i pun merenung, ia merenungkan keadaan dirinya, “Apa yah dosa yang kira-kira telah kuperbuat?” Beliau pun teringat bahwa pernah suatu saat beliau melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya [ada pula yang mengatakan: yang terlihat adalah mata kakinya]. Lantas setelah itu beliau memalingkan wajahnya. Lantas keluarlah sya’ir.

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Inilah tanda waro’ dari Imam Asy Syafi’i, yaitu kehati-hatian beliau dari maksiat. Beliau melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, lantas beliau menyebut dirinya bermaksiat. Sehingga ia lupa terhadap apa yang telah ia hafalkan. Hafalan beliau bisa terganggu karena ketidak-sengajaan. Itu pun sudah mempengaruhi hafalan beliau. Bagaimana lagi pada orang yang senang melihat wajah wanita, aurat mereka atau bahkan melihat bagian dalam tubuh mereka?!

Sungguh, kita memang benar-benar telah terlena dengan maksiat. Lantas maksiat tersebut menutupi hati kita sehingga kita pun sulit melakukan ketaatan, malas untuk beribadah, juga sulit dalam hafalan Al Qur’an dan hafalan ilmu lainnya.

Lantas apa kaitannya dengan tilawah Al-quran?
Sungguh tilawah Al-Quran adalah salah satu obat dari kekotoran hati.

Dari Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, Baginda Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air."
Sahabat bertanya "Ya Rasulullah, apakah pembersihnya?"
Beliau bersabda: "Banyak Mengingat Maut dan Membaca Al-Qur'an " (H.R. Baihaqi, dari Kitab Asy-Syu'ab)

Maka bagi para penghafal Al qur’an tatkala banyak mengalami kendala dalam menghafal maka perbanyaklah  tilawah maka dengan Karunia-Nya Alloh SWT akan memudahkan kita dalam menghafal Al-Quran. Menghafal dan tilawah adalah bagaikan dua sisi mata uang. Selamat mencoba…

Wallohu Alam (kangrud/MMQ News)